Halaman

Senin, 29 Oktober 2012

7 Hikmah dan Keutamaan Qurban ‘Idul Adha

Sebentar lagi kita akan kedatangan tamu istimewa, Hari Raya ‘Idul Adha, dimana di hari itu dan hari tasyrik dilakukan penyembelihan hewan qurba. Jika Anda belum memutuskan untuk berkurban tahun ini, ada baiknya Anda menyimak hikmah dan keutamaan qurban pada hari-hari tersebut:
1. Kebaikan dari setiap helai bulu hewan kurban
Dari Zaid ibn Arqam, ia berkata atau mereka berkata: “Wahai Rasulullah SAW, apakah qurban itu?” Rasulullah menjawab: “Qurban adalah sunnahnya bapak kalian, Nabi Ibrahim.” Mereka menjawab: “Apa keutamaan yang kami akan peroleh dengan qurban itu?” Rasulullah menjawab: “Setiap satu helai rambutnya adalah satu kebaikan.”Mereka menjawab: “Kalau bulu-bulunya?”Rasulullah menjawab: “Setiap satu helai bulunya juga satu kebaikan.” [HR. Ahmad dan ibn Majah]

2. Berkurban adalah ciri keislaman seseorang
Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda: “Siapa yang mendapati dirinya dalam keadaan lapang, lalu ia tidak berqurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat Ied kami.” [HR. Ahmad dan Ibnu Majah]

3. Ibadah kurban adalah salah satu ibadah yang paling disukai oleh Allah

Dari Aisyah, Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada amalan anak cucu Adam pada hari raya qurban yang lebih disukai Allah melebihi dari mengucurkan darah (menyembelih hewan qurban), sesungguhnya pada hari kiamat nanti hewan-hewan tersebut akan datang lengkap dengan tanduk-tanduknya, kuku-kukunya, dan bulu- bulunya. Sesungguhnya darahnya akan sampai kepada Allah –sebagai qurban– di manapun hewan itu disembelih sebelum darahnya sampai ke tanah, maka ikhlaskanlah menyembelihnya.” [HR. Ibn Majah dan Tirmidzi. Tirmidzi menyatakan: Hadits ini adalah hasan gharib]

4. Berkurban membawa misi kepedulian pada sesama, menggembirakan kaum dhuafa
“Hari Raya Qurban adalah hari untuk makan, minum dan dzikir kepada Allah” [HR. Muslim

5. Berkurban adalah ibadah yang paling utama
“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah.” [Qur’an Surat Al Kautsar : 2]
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah ra sebagaimana dalam Majmu’ Fatawa (16/531-532) ketika menafsirkan ayat kedua surat Al-Kautsar menguraikan : “Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan beliau untuk mengumpulkan dua ibadah yang agung ini yaitu shalat dan menyembelih qurban yang menunjukkan sikap taqarrub, tawadhu’, merasa butuh kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, husnuzhan, keyakinan yang kuat dan ketenangan hati kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, janji, perintah, serta keutamaan-Nya.”
“Katakanlah: sesungguhnya shalatku, sembelihanku (kurban), hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” [Qur’an Surat Al An’am : 162]
Beliau juga menegaskan: “Ibadah harta benda yang paling mulia adalah menyembelih qurban, sedangkan ibadah badan yang paling utama adalah shalat…”

6. Berkurban adalah sebagian dari syiar agama Islam
“Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah)” [Qur’an Surat Al Hajj : 34]

7. Mengenang ujian kecintaan dari Allah kepada Nabi Ibrahim
“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” [Qur’an Surat Ash Shaffat : 102 - 107]

Senin, 01 Oktober 2012

Hikmah ramadhan

 Bulan Ramadhan bulan melatih diri untuk disiplin waktu. Dalam tiga puluh hari kita dilatih disiplin bagai tentara, waktu bangun kita bangun, waktu makan kita makan, waktu menahan kita sholat, waktu berbuka kita berbuka, waktu sholat tarawih, iktikaf, baca qur'an kita lakukan sesuai waktunya. Bukankah itu disiplin waktu namanya? Ya kita dilatih dengan sangat disiplin, kecuali orang tidak mau ikut latihan ini.

Bulan Ramadhan bulan yang menunjukkan pada manusia untuk seimbang dalam hidup. Di bulan Ramadhan kita bersemangat untuk menambah amal-amal ibadah,
dan amal-amal sunat. Artinya kita menahan diri atas satu pekerjaan yang monoton dan lalai beribadah kepadaNya. Orang yang lalai atas mengingat Allah, selalu asyik dengan pekerjaannya, sehingga waktu istirahat siang, sholat, dan makan sering terabaikan. Atau waktu yang seharusnya dipakai untuk beribadah kepada Allah dipakai untuk makan siang bersama kekasih. Sholat? tinggal. Di bulan Ramadhan kita diajarka hidup seimbang, antara pekerjaan, dan Ibadah. Pekerjaan untuk kepentingan dunia dan Ibadah untuk kepentingan Akhirat. 
 

Senin, 24 September 2012

puisi untuk ibu

Ibu...!
Aku tahu...
Semua letihmu itu tulus
Dan...akupun tahu
Bukan apa-apa yang engkau ingin
Engkau tak pernah inginkan apa-apa

Ibu...!
Dulu engkau pernah bilang
Cepatlah besar anakku !
Jadilah engkau orang besar
Yang membesarkan hati Ibu

Ibu...!
Semua hebatku
Tak kan pernah ada
Tanpa ikhlas pengorbananmu

Senin, 10 September 2012

MENENGOK ORANG SAKIT

Salah satu tradisi di masyarakat Indonesia normal yang relevan dengan anjuran Islam adalah menjenguk orang sakit. Dalam kehidupan masyarakat di Indonesia ada yang tidak normal artinya kehidupan yang telah tergerus pola hidup sok modern di perumahan mewah dengan pagar tinggi yang tidak mengenal tetangga kanan kiri, bukan juga kehidupan dari hotel ke hotel, villa ke villa lain yang bukan saja tidak mengenal tetangga tapi tidak memiliki tetangga. Mereka bukan lagi menjenguk tetangga sakit, tetangga meninggalpun tidak tahu dan kemungkinan saat meninggal itulah moment untuk mengenal sekaligus mengenangnya, kalau belum meninggal maka mungkin belum kenal. Sungguh ironis!
Di masyarakat pedesaan, budaya menjenguk tetangga sakit atau saudara sakit adalah suatu kewajiban yang tidak tertulis. Kalau ada salah satu warga sakit maka satu kampung bisa datang berduyung-duyung ke rumah sakit secara bergiliran. Bahkan ada yang dikoordinir terkait dengan waktu, kendaraan dan iuran yang akan disedekahkan. Walaupun secara tingkatan berbeda-beda sikap dan caranya.
Pertama, ada yang sudah mencukupkan diri untuk setor muka istilahnya karena yang penting pernah menjenguk walaupun hanya sekali, biar ada bahan cerita bahwa dia sudah menjenguk dan tidak menjadi bahan gunjingan orang lain. Ini masih tingkatan bagus karena peduli karena ada orang yang cuek, asyik dengan pekerjaannya dan keluarganya, tidak peduli dengan tetangga dan saudaranya.
Kedua, ada yang cukup serius dengan tidak sekedar menggugurkan kewajiban atau sekali menjenguk tapi beberapa kali menjenguk dengan memantau perkembangannya. Ada sikap merasakan penderitaan atau sakit dari saudaranya yang sedang sakit dengan mendoakan dengan tulus atas kesembuhannya.
Ketiga, biasanya ini adalah saudara dekat atau keluarganya yang terpanggil untuk bergiliran meluangkan waktu guna menunggu dan merawatnya. Meringankan beban si sakit dengan membayar biaya perawatan dan obat-obatannya. Karena terkadang si sakit menderita ganda, sakit yang dideritanya dan beban biaya yang harus ditanggungnya. Saat itulah mereka membutuhkan bantuan dari orang-orang dekatnya. Inilah moment pembuktian ukhwah islamiah yang tepat.
Salah satu hak orang beriman terhadap saudaranya adalah dijenguk saat sakit. Psikologi dari orang sakit adalah membutuhkan sapaan dan sentuhan tulus kemanusiaan, tidak hanya seperangkat alat kedokteran yang nampak menyeramkan dan senyum formalitas perawat. Pasien sering merasa keterasingan di kamar rumah sakit jika tidak ada yang menjenguknya dan ini menambah penderitaannya. Suara jarum dinding, gas oksigen dan suara ngorok pasien dan penunggu juga menambah tegang suasana.
Menjenguk orang sakit, tidak sekedar datang melihatnya tapi ada doa yang dimunajatkan dan ada sedekah yang diberikan. Doa kepada orang sakit terlihat sepele dan jarang orang melakukan, mungkin karena tidak tahu, malu-malu atau dalam hati saja. Namun doa yang serius dimunajatkan di depan pasien memberikan dampak psikologi yang luar biasa atau memberikan sugesti untuk bisa tenang dan cepat sembuh. Keseriusan berdoa diwujudkan dengan bersama-sama, suara yang jelas, menengadahkan tangan, dalam kondisi suci.
Bersedekah kepada orang sakit juga memberi pengaruh yang tidak sederhana. Bisa berwujud uang atau makanan. Namun yang lebih utama tentu uang untuk menambah biaya perawatan, adapun makanan juga penting tapi untuk penjaganya, si pasien tidak bisa merasakan nikmatnya makanan apapun. Ada juga kejadian yang abnormal yaitu orang yang sebentar-sebentar masuk rumah sakit anggota keluarganya, sakit sedikit dirawat di rumah sakit. Ternyata dia sengaja mencari keuntungan dari sakitnya yaitu mendapatkan uang sedekah dari para tetangga dan saudara-saudaranya. Ini tentu contoh tidak baik dan hanya kasus saja yang tidak perlu ditiru tapi disadarkan.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh penjenguk orang sakit. Diantaranya, pertama masalah waktu, bukan pada jam istirahat karena terkadang pasien di rumah sakit tidak bisa menikmati waktu istirahatnya disebabkan pengunjung yang tidak berhenti datang menjenguknya. Kemudian kedua, saat menjenguk juga tidak terlalu lama mengobrolnya, apalagi bertanya bak seorang detektif atau intrograsi kepada tersangka karena itu membebani pikiran. Ketiga, banyak memberikan komentar motivasi bukan malah menyalahkan yang hal itu malah membuat sakit hati pasien.
Perawatan di rumah sakit memang memberikan kesan tingkat keparahan si pasien dan saudara atau kerabat ada keseriusan untuk menjaganya. Sangat berbeda orang sakit yang dirawat di rumah saja, maka perhatiannya tidak terlalu serius atau sambil lalu saja. Namun ada juga sebagian orang yang tidak mau di rawat di rumah sakit dan sengaja menyembunyikan tempat rumah sakit, tempat dirawatnya karena ingin istirahat total dan tidak mau merepotkan orang lain untuk menjenguknya.
Masuk rumah sakit memang terasa memasuki dunia lain. Mulai dari bau obat-obatan yang khas, lalu lalang perawat dan penjenguk dengan wajah harap-harap cemas. Ketegangan juga dirasakan, apalagi di kamar ICU dan UGD, seolah malaikat pencabut nyawa bermarkas di sana keliling. Karena realitanya hampir setiap hari ada orang meninggalkan dunia di rumah sakit. Walaupun sebenarnya meninggal itu tidak harus dimulai dari sakit dulu, orang sehatpun bisa meninggal dengan mendadak.
Keluar masuk penjenguk orang sakit setiap sore dan setelah Maghrib memberikan suasana yang khas. Rasa simpati dan sikap empati yang mereka tunjukkan penjenguk kepada pasien-pasien yang dilalui maupun yang sengaja didatangi memberikan kesejukkan. Namun ada rasa pedih dan kasihan kepada pasien yang sepi dari penjenguk, sementara pasien yang lain berjubel orang menjenguk. Inilah peran saudara dan keluarga untuk senantiasa menemani dan mendatangi saudaranya yang sakit. Jangan biarkan saudara dan temannya menjadi pasien yang merana karena itu akan menambah penderitaan.